Senin, 20 Oktober 2008

PENGKAJIAN RESIKO BENCANA



Resiko ancaman bencana bukan sesuatu yang mutlak menjadi unsur pemicu resiko jika kita dapat dengan baik mengelolahnya. Mengetahui jenis ancaman, tingkat kerentanan dan kapasitas yang dimiliki dalam menghadapi resiko adalah unsur penting dalam pengelolaan resiko bencana. Hasil pengkajian resiko bencana di Sulawesi Tengah yang dilakukan di Kabupaten Donggala memberikan gambaran bagaimana tingkat resiko bencana yang mengakibatkan kematian dan kesakitan, kehilangan aset kehidupan dan penghidupan manusia. Tingginya resiko ini di pengaruhi oleh tingginya ancaman dan kerentanan. Di lain sisi minimnya kapasitas pada individu, masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi bencana menjadi hal yang memperparah dampak dari resiko yang dialami.

Proses kajian yang biasa disingkat DRA ini dilaksanakan oleh yayasan Jambata bekerjasama dengan OXFAM GB. Hasilnya memberikan gambaran resiko bencana di wilayah Donggala, Poso, Toli Toli, Boul, Tojo Una Una, Morowali, Banggai, Banggai Kepulauan dan Kota Palu. Bagaimana proses dan hasil kajian itu? Apa saja yang menjadi resiko bencana di Sulawesi Tengah, khususnya di Donggala? Dan bagaimana merumuskan strategi pengurangan bencana?, Berikut paparan ringkas Pengkajian Resiko Bencana yang telah didokumentasikan oleh yayasan Jambata.


Proses Pengkajian Resiko Bencana
Berangkat dari hasil pelatihan Disaster Risk Assesment (DRA) di Makassar, pada Juli 2007 yang melahirkan komitmen kerjasama anatara OXFAM GB dan yayasan Jambata serta ROA sebagai mitra implementasi. Proses penyiapan dan pelaksanaan DRA dimulai dengan memilih kabupaten Donggala dan kabupaten Parigi Moutong sebagai fokus pengkajian.

Karena pertimbangan keterbatasan waktu, DRA ini dilakukan di empat desa saja sebagai sampel, yaitu di desa Mapaga, kecamatan Balaesang kabupaten Donggala, desa Omu di kecamatan Gumbasa, kabupaten Donggala. Serta desa Marantale dan Patapa, kabupaten Parigi Moutong.


Dengan menggunakan metode Partipatory Rural Appraisal (PRA) bersama masyarakat setempat kegiatan ini berusaha melakukan analisa alur sejarah bencana, sket map, kalender musim, penelusuran wilayah atau transek, analisa perubahan dan kecendrungan, dan analisa kelembagaan. Selain itu, tim juga mengumpulkan data data penting sebagai data sekunder yang bersumber dari para pihak terkait. Data ini berupa laporan penanggulangan bencana, prosedur tetap Penaggulangan Bencana, rencana program jangka menengah, dan surat surat keputusan yang terkait dengan pengelolaan bencana.

Untuk melengkapi bahan kajian, tim juga mencoba mempelajari APBD yang dialokasikan untuk kepentingan pengelolaan bencana, hal ini juga disertai dengan melakukan pengkajian pustaka bersumber dari pemberitaan media massa seperti surat kabar terbitan lokal dan nasional, artikel dan opini dan hasil wawancara dengan masyarakat.
Risiko Bencana Propinsi Sulawesi Tengah, khususnya Donggala
Sulawesi Tengah memiliki tingkat resiko tinggi dari dampak bencana. Tingginya resiko dipengaruhi oleh keragaman ancaman, akibat minimnya kapasitas dalam memanimalisir risiko bencana. Kapasitas yang dimaksud adalah kemampuan masyarakat untuk mempersiapkan diri ketika terjadi bencana dengan pertimbangan potensi yang dimiliki. Ini dapat dilihat dengan keterbatasan untuk mecapai kondisi ideal penanggulangan bencana, baik dari sisi manusia, ekonomi, lingkungan, infrastruktur, tatanan sosial dan politik.

Secara khusus, Kabupaten Donggala memiliki tingkat resiko paling tinggi dari di Sulawesi Tengah. Sumber resiko di pengaruhi keragaman ancaman yang sering melanda wilayah ini seperti banjir, longsor, gempa, tsunami, gelombang pasang, angin putting beliung, dan konflik.
Beragam ancaman bencana yang disebutkan, sayangnya tidak dibarengi oleh kemampuan masyarakat dalam menghadapinya. Dari sisi lain, cenderung masyarakat masih bergantung pada bantuan dan intervensi pihak luar. Pemerintah setempatpun kurang siap jika terjadi bencana karena lemahnya pemahaman soal penangganan bencana.

Dalam kesempatan semiloka DRA, menyikapi kondisi itu, Bupati Donggala, Drs H Habir Ponulele MM mengatakan perlu dirumuskan langkah strategis bersama dan pengembangan kapasitas semua pihak dalam penangganan resiko bencana. Diharapkan juga, kedepan hasil DRA ini dapat menajadi acuan untuk melakukan kajian DRA lebih mendalam di kabupaten yang lain. Harapan lainnya hasil DRA ini bisa diperbaharui untuk kepentingan masa yang akan datang. Harapan lain, jika terjadi bencana bukan hanya tindakan responsif saja yang dilakukan. Tetapi kesiapan dalam menghadapi bencana perlu juga disiapkan di semua pihak.

0 komentar:

Poskan Komentar